Renungan : Ditilang Polisi, dan Polisi Itu Temanku
Edan, ini cerita dalem banget!!! Begitu gue baca cerita ini, yah gue cuma bisa miris aja sih. Emang banyak banget kejadian di mana orang ditilang tapi berusaha ngeles. Kadang gue bingung, yang salah polisinya yang mau nerima uang suap, ato yang ditilangnya yang nyoba-nyoba nyuap. Yah, di Indonesia udah jadi pemandangan sehari-hari aja sih, orang-orang berperilaku ngga tertib.
Gue jadi inget waktu itu gue ampir ditabrak sama pengendara motor yang lagi ngebut di trotoar. Pas gue omelin tuh orang yang ampir nabrak gue, eh… dia malah balik marah ke gue. Gue juga pernah liat motor ketabrak gara-gara dia muter di tempat yang emang harusnya ngga boleh muter di situ. Banyak banget deh potret pelanggaran. Bisa panjang kalo gue bahas di sini.
Ngelanggar lampu merah itu bahaya banget. Ngga cuma buat orang laen. Tapi buat diri sendiri juga bahaya. Ngga ada salahnya bersabar sedikit. Anda buru-buru, orang di belakang Anda juga mungkin buru-buru. Gue ngga bisa ngomong banyak, gue cuma berharap kalo cerita ini jadi bahan pertimbangan Anda jika Anda punya niat untuk ngelanggar aturan lalu lintas. Aturan lalu lintas yang manapun.
Ditilang Polisi , dan Polisi itu temenku
Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.
Prit!
Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.
Hati Jono agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Jon.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh ya?”
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.“Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.
“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.”
Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
“Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.”
Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.
“Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)“.
Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan… ….
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati. Drive Safely Guys..
December 4, 2008 at 5:28 am
semoga masyarakat kita semakin sadar akan pentingnya tertib berlalu lintas. tapi sekali kali nglanggar boleh dong kalo kepepet hehe…:)
December 4, 2008 at 6:07 am
hahaha… asal hati-hati dan ngga ada polisi boleh-boleh aja sih… (kayaknya) :p